Persepsi ‘gantungkanlah cita-cita setinggi langit’ membuat
sebahagian pola pikir yang terus menerus berputar seakan memberikan jarak yang
terbentang tiada hingga pada titik terang benderang yang kita sebut sebagai
sebuah mimpi. Saat kita sebelum menjadi seperti sekarang ini, berbagai
ekspektasi tentang masa depan telah kita ukir dalam bayangan dunia khayal
dihiasi senyuman seolah hal tersebut akan selalu menjadi hal yang pasti
terjadi. Tubuh kita mungkin kecil, jemari kita mungkin masih mungil, namun harapan
kita saat itu tak hanya secuil. Optimisme dan big spirit akan cita-cita yang
membumbung tinggi membuat kita pada masa itu menjadi pribadi tangguh dan tak
mudah berhenti. Berkalipun kita jatuh pada waktu itu, dengan sedikit tangisan
dan motivasi kuat dalam diri membuat kita bangkit kembali untuk terus mencoba
agar bisa berlari.
Namun, seiring waktu yang
terus melaju tiada henti, membawa berbagai macam energi sebagai efek dari
proses interaksi intern ataupun ekstern. Berbahagialah orang yang mendapatkan
positive efect dari interaksi tersebut. Namun tak dapat dipungkiri negative
efect selalu mengintai dan bertebaran dimanapun dan kapanpun kita berada. Terkadang
hal tersebut mengikis secara perlahan pondasi yang dulu telah kita bangun
dengan kokoh dan kuat sehingga yang muncul kepermukaan adalah pribadi-pribadi
the losser dan bukannya the winner.
Benturan antara harapan dan kenyataan selalu menghinggapi setiap
insan yang mendambakan sebuah mimpi. Beribu alasan dan pertanyaan selalu
berputar dalam wacana dimensi khayal yang selalu mendominasi dalam jalan meraih
ridho illahi. Langit terlihat tinggi dengan segala bintang yang menghiasinya
walau terkadang kita malah ingin menggapainya, namun apa daya bintang itu
terlalu tinggi layaknya mimpi-mimpi yang telah kita gantungkan bersama pelangi
pada langit yang tinggi.
Kaum the losser selalu melihat kesulitan dibalik kesempatan ,
sedangkan the winner selalu melihat kesempatan dibalik kesulitan.